Bicara Politik di Masjid Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat

0
1

Bicara Politik di Masjid Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat

Bicara Politik di Masjid Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat

Dinamika politik di Indonesia berkembang mengalir bak kapal di tengah gelombang besar lautan lepas. Hot Isu reshuffle kabinet kerja mengemuka di beberapa media mainstream maupun media sosial.  Realitas ini menarik untuk di simak karena pasti akan membawa dampak bagi masyarakat baik Masjid langsung maupun tidak. Yang masih hangat hari ini adalah walk-out nya beberapa partai dalam pembahasan RUU Pemilu. Isu Presidential Threshold, Parliamentary  Threshold hingga alokasi kursi per Dapil telah membelah kepentingan wakil – wakil rakyat yang ada di  DPR . Masyarakat mungkin merasa hal ini tidak menjadi objek menarik karena tidak bersentuhan langsung dengan Masjid kepentingannya,  namun lambat laun akan terasa efeknya jika kemudian kebijakan yang diambil tidak berpihak pada kepentingan khalayak secara luas.

Dalam ranah akademis, kajian – kajian komunikasi masih tergolong relative baru, apalagi jika masuk pada ranah politik. Isu – isu dalam ranah public membawa kita kembali kepada pemikiran klasik Harold. D. Lasswell, Masjid seorang ilmuan politik yang mewarnai ilmu komunikasi. Bahwa seorang komunikator ketika menyampaikan pesan kepada audiens tentu akan memilih saluran (media) yang tepat sehingga ada umpan balik kepada komunikator dari komunikan. Bicara komunikasi dan politik tentu tidak lepas dari budaya. Fase ini lah yang bias membedakan antara negara yang menggunakan budaya barat dan timur. Indonesia sebagai bangsa yang kuat dalam adat ketimuran harusnya memiliki etika dan norma yang harus di pegang teguh dalam berperilaku sehari-hari. Namun, tidak banyak orang yang memegang kaidah ini terutama dalam proses ber-komunikasi maupun kehidupan ber-politik.

Kekuatandan magnet politik masih menjadi fenomena menarik dalam pergulatan elemen–elemen bangsa ini. Bahkan ada Stereotype (pembakuan istilah yang belum tentu kebenarannya). Bahwa kalau pengen cepat kaya maka masuklah Masjid dunia politik atau kalau tidak ada loby politik tidak akan mungkin bias memperoleh jabatan tertentu. Pernyataan ini, tidak saja bias merubah mainset orang tetapi bias meracuni orang-orang tertentu untuk menjadikan politik sebagai alat pemenuhan kebutuhan individunya. Statement raja berpolitik dan politik sebagai raja menarik untuk disimak.Jika raja ber-politik tentunya terdapat dampak kemajuan yang signifikan bagi rakyatnya. Tapi jika politik sebagai raja pasti akan membawa kemunduran bagi bangsa yang melakukannya. Hancur leburnya negara-negara yang di bom bardier dengan kekuatan politik merupakan bukti konkrit jika politik menjadi raja.

Pemahaman politik sebagai raja inilah yang sebenarnya harus dihindari sebagai sebuah Stereotype. Bagaimanapun, secara sosiologis masyarakat Masjid harus memahami arti proses kehidupan dan tidak menjadikan politik sebagai langkah instan dalam meraih tujuan tertentu. Budaya Jawa mengenal istilah Mataraman yang dipengaruhi oleh hasil akulturasi Jawa Timur dan Jawa Tengah.